Thursday, August 9, 2012

Memasuki minggu ketiga bulan Ramadan, masjid bukanlah sekadar tempat untuk beribadah. Kemegahan serta keunikan dari setiap masjid di nusantara ini menjadi pesona yang sangat memukau. Inilah 7 masjid terindah di Pulau Sumatera.

Mendekati sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadhan, ada satu ibadah yang biasa dilakukan oleh umat Islam. Itikaf! Berdiam diri di masjid untuk memperbanyak amalan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Hingga pada hari kemenangan tiba, masjid-masjid tetap ramai dikunjungi umat Islam.

Tidak hanya sekadar untuk meningkatkan ibadah atau mengenang masa lalu, mengunjungi masjid juga bisa dijadikan sebagai alternatif destinasi wisata.

Berikut adalah 7 masjid terindah di Pulau Sumatetra yang saya kunjungi dalam perjalanan itikaf.

1. Masjid Raya Baiturrahman, Aceh

sukague.com

Masjid yang selamat dari hempasan tsunami ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17. Keanggunannya tak kalah dengan Taj Mahal di India.

Konon, lima kubahnya memang mengadopsi gaya bangunan Islam yang pernah jaya di tempat tersebut. Masuk lebih dalam, tampak jelas bahwa ukiran sulur dan ornamen masjid ini tidak berasal dari inspirasi lokal.

Relung-relungnya lebih dekat dengan gaya Turki atau Persia, sementara jendela-jendela besarnya terlihat menyerupai bangunan Indisch peninggalan Belanda. Siapapun pasti setuju bahwa masjid ini megah tidak hanya dilihat dari segi arsitekturalnya saja. Pada akhir 2004 silam, ketika tsunami menerjang Aceh, Masjid Raya Baiturrahman ini melindungi banyak jiwa.

2. Masjid Raya Al Mashun, Medan

sukague.com

Dinding masjid yang berwarna putih dengan ornamen hijau kebiruan ini terlihat sejuk di antara padatnya lalu lintas Simpang Raya, Medan. Dari depan terlihat kubahnya tidak berbentuk bulat melainkan menyerupai bawang atau berbentuk persegi delapan.

Sama dengan bentuk kubahnya, dinding luar masjid ini juga memiliki bentuk yang sama. Bentuk persegi delapan ini pun diperkuat dengan koridor-koridor yang memisahkan ruang utama dengan ruang lainnya.

Hiasan dinding koridor maupun ornamen plafon dan bangunan utama sarat warna merah bata bergaya Mughal India. Dibangun atas prakarsa Sultan Deli pada awal abad ke-20, arsitek dari Masjid ini adalah seorang Belanda.

3. Masjid An Nur, Pekanbaru


Kubah-kubah berbentuk bawang lebih sering muncul pada bangunan masjid di kawasan Sumatera Utara. Di Pekanbaru, selain berbentuk bulat bawang, bentuk kubah terlihat lebih mewah dengan detil ornamen hijau, biru, dan kuning di permukaannya.

Gaya mewarnai kubah mirip Istana Kremlin di Rusia ini, justru sering dijumpai pada masjid-masjid modern di tanah Melayu. Di sisi lain, dinding masjid yang berbentuk kubistik dengan celah-celah kecil dipermukaannya menghadirkan nuansa Timur Tengah yang sangat kental.

Sebagai bangunan modern, masjid ini juga dilengkapi dengan eskalator menuju lantai atas bangunannya. bentuk keseluruhan kompleks Masjid An Nur ini terintegrasi oleh sekolah-sekolah serta kampus yang berada di sekitarnya.

4. Masjid Agung At Taqwa, Bengkulu

sukague.com

Luas, kokoh, dan sederhana! Demikian kesan yang ditangkap saat saya memasuki halaman masjid terbesar di Provinsi Bengkulu ini. Tiang dan jendela yang besar, langit-langit yang tinggi dengan sentuhan cat serba putih memberikan kesan kuat pada bangunan Masjid At Taqwa.

Ornamen interiornya tidak detil, justru tampak besar-besar. Bayang-bayang dari jendela-jendela besar tersebut memantul pada lantai masjid yang terbuat dari marmer. Kondisi seperti ini memberi kesan luas dan sejuk.

Kubah utama masjid berbentuk bulat, menumpang di atas atap bersusun tiga yang merupakan inspirasi bangunan lokal. Meskipun berdiri pada tahun 1988, awal mula bangunan ini berdiri sejak zaman kompeni Belanda.

5. Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin, Palembang


sukague.com

Sekilas bangunan ini merupakan salah satu masjid tanpa kubah yang terdapat di Pulau Sumatera. Atapnya bergaya limas bersusun tiga, menyerupai bangunan masjid yang ada di Pulau Jawa. Akan tetapi, hiasan atap yang berwarna merah dan emas serta ukiran-ukiran ornamennya menghadirkan arsitektur bergaya China.

Tidak berhenti di situ, menara Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin juga terlihat mirip dengan pagoda. lain di luar, lain pula di dalam! Hiasan interior masjid dipenuhi kaligrafi berwarna hijau, serta warna-warna semarak lainnya yang sering dijumpai dalam kerajinan khas Palembang.

Walaupun, telah mengalami pemugaran berkali-kali, unsur arsitektur China tetap ada dalam bangunan masjid ini. Konon, gaya ala China sudah ada sejak pertama kali masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin di abad ke-18.

6. Masjid Agung Al Falah "1.000 Tiang", Jambi

sukague.com

Masjid ini bisa dibilang tidak berdinding! Satu-satunya dinding adalah sisi barat bagian mihrab atau tempat imam salat yang terbuat dari kayu berukir.

Itu pun tidak sepenuhnya menjangkau puncak pilar. Artinya hanya tiga perempat dinding yang tertutup sekat. Kemudian tiga sisi lainnya dipenuhi oleh tiang dengan berbagai bentuk. Komposisi tiangnya berlapis-lapis dengan beraneka bentuk dan bahan.

Tidak berlebihan apabila warga menyebut bangunan tersebut sebagai Masjid 1.000 Tiang mengalahkan nama aslinya, yaitu Al Falah. Pada awalnya tanah tempat berdirinya masjid tersebut merupakan lokasi istana Sultan Thaha Syaifuddin. Namun pada awal abad ke-20, Belanda membumi hanguskan istana tersebut dan menjadikan tanah di atasnya sebagai kampung militer.

7. Masjid Agung Pondok Tinggi, Jambi

sukague.com

Meskipun, tidak terletak di ibukota provinsi seperti enam masjid sebelumnya, masjid agung ini memiliki keunikan yang memukau. Seluruh bangunannya dipercaya tidak dihubungkan satu pun dengan pasak. Oleh karena itu, wajar bila dilihat dari sudut tertentu bentuknya tidak begitu simetris.

Dinding hingga atap masjid terbuat dari kayu. Hiasannya menggunakan ukiran yang besar dan berwarna mencolok asli daerah setempat. Corak ukiran dan warna tersebut bisa kita lihat pada hiasan atap rumah maupun ujung perahu tradisional Jambi.

Di bagian atas atapnya, bergaya tumpang tiga khas bangunan masjid pribumi. Masjid yang lahir pada akhir abad ke-19 ini didirikan oleh masyarakat lokal.

 Sumber