Sunday, April 10, 2011


http://faktabukanopini.blogspot.com/  

MENGETAHUI apa yang pria inginkan bukan pekerjaan mudah bagi wanita. Dan ternyata, pria mengubah pandangan mereka soal wanita dan hubungan seiring waktu berjalan.
Cosmopolitan mengulas soal ini kemudian membahasnya bersama para psikolog, antropolog, terapis seks, dan sosiolog mengungkapkan. Berikut ini:

Pria berpikir, menggaet wanita kini lebih sulit daripada generasi sebelumnya
“Di satu sisi, pria diminta untuk menjadi bijaksana, peduli, bersemangat, bisa dekat, dan berbagai tipe calon ayah lainnya. Di sisi lain, mereka masih diharapkan menjadi macho,” kata William Pollack PhD, pendiri dan Presiden Direktur the Centers for Men and Young Men at McLean Hospital, Massachusetts.
Ia mengatakan, pria sering tidak bisa belajar dari nenek moyang mereka tentang bagaimana seharusnya yang dilakukan seorang pria. William menukaskan, bahkan ada seorang pria berkata kepadanya, “Mengapa repot-repot melakukan itu? Ayahku melakukannya, tapi sekarang dia bercerai, ibuku tidak mau berbicara dengannya, dia hidup sendiri, dan dia tidak bahagia.”

Semua tekanan yang memengaruhi kehidupan seks
“Masalah terbesar yang saya tangani adalah hasrat seks rendah,” kata Ian Kerner PhD, terapis seks dan penulis buku She Comes First.
“Sepuluh tahun yang lalu, selalu wanita yang mengalami masalah kehilangan libido, tapi kini, jumlah pasien pria dengan libido rendah semakin banyak. Melampaui pasien wanita,” imbuhnya.
Menurut Kerner, masalahnya terletak pada tekanan internal.
“Mereka berkata, ‘Aku sedang stres, aku merasa bukan seperti diriku. Aku mengalami masalah pekerjaan’,” katanya menirukan pasiennya.

Alasan pria menikah tunggu mapan
“Secara fisik, mereka bisa menunggu lebih lama untuk memiliki anak di kemudian hari,” kata Wes Moore, advokat muda dan penulis buku The Other Wes Moore.
Namun ia menambahkan, masalahnya terletak pada kriteria tinggi yang ditetapkan wanita pada seorang pria yang berpotensi suami.
“Jika seorang wanita mencari seorang pria yang berpendidikan dan memiliki pekerjaan yang baik, sopan, dan siap menjadi suami, jumlah pria yang bisa Anda pilih cenderung berkurang,” katanya.
Pada dasarnya, pria yang ingin mapan sebelum menikah lantaran mereka merasa tidak memiliki banyak saingan.

Tidak masalah dengan wanita bergaji lebih besar
“Pria muda tidak terlalu bermasalah dengan gagasan bahwa pasangan mereka akan menghasilkan lebih banyak uang. Bahkan, mereka berharap bisa memiliki pasangan yang menghasilkan lebih banyak uang tahun ini dan dia melakukan hal yang sama tahun depan,” jelas Kathleen Gerson PhD, profesor sosiologi New York University dan ketua the Faculty of Arts and Science Gender Equity Committee.
“Pria muda melihatnya dalam gambaran besar, yaitu mereka akan mampu membeli rumah, bukan berapa banyak kontribusi yang diberikan masing-masing. Mereka melihat kolaborasi yang lebih baik daripada berdebat soal kekuasaan (di rumah tangga),” paparnya.

Pria masih merasa terancam oleh keberhasilan wanita
“Wanita adalah pembuat keputusan, baik soal produksi maupun reproduksi,” kata Lionel Tiger PhD, profesor antropologi di Rutgers University dan penulis buku The Decline of Males.
Menurutnya, hal ini sangat berat bagi pria.
“Unsur produktif pria telah dirampas, yang dapat membuat mereka merasa tidak memiliki kontribusi dan tidak dibutuhkan sama sekali,” ujarnya.

Persahabatan antarpria sangat penting
“Pria telah belajar dari wanita bahwa persahabatan sesama jenis sangat mendukung hidupnya. Hubungan itu sangat berguna dan menimbulkan pemahaman bersama,” kata William.
Dia menambahkan, persabahatan pria bahkan dapat memiliki dampak positif pada hubungannya dengan kekasih atau istri mereka. Karena, mereka mendapatkan dukungan dari persahabatan itu.

Sumber :
putunik.com