Sunday, January 30, 2011


Anda pernah menghitung, berapa jumlah acara infotainment di saluran televisi kita? Anda mungkin tak pernah melakukannya karena jumlahnya begitu banyak. Hal ini menandakan, acara gosip tersebut memang disukai dan dicari penonton televisi. Termasuk kita, tentunya.

Gosip sering melibatkan tokoh-tokoh selebriti. Namun, pada dasarnya kita tak hanya bergosip tentang selebriti, melainkan juga orang-orang di sekitar kita. Faktanya cukup mengerikan.
Menurut sebuah studi pada 2009 yang dilakukan Nicholas Emler PhD, profesor psikologi di University of Surrey, Inggris, sebanyak 80 persen dari obrolan sehari-hari kita bersifat pribadi, dan kebanyakan hanya merupakan gosip. Alasan utamanya, "Karena itu menyenangkan," kata Frank McAndrew PhD, profesor psikologi di Knox College di Galesburg, Illinois.
Bahkan, pikiran kita memang dirancang untuk berpikir seperti itu, demikian menurut antropolog biologis Helen Fisher PhD. Ketika kita mendengar sesuatu yang bernada gosip, otak kita menanggapi dengan cara yang sama seperti ketika kita mengalami pengalaman yang baru dan menarik. Pada saat itu, kadar dopamin pada otak meningkat.

"Dengan dorongan dopamin, datanglah energi dan rasa antusias," ujar penulis buku Why Him? Why Her?: How to Find and Keep Lasting Love ini.

Kenapa kita melakukannya
Alasan utama mengapa kita suka gosip adalah mengetahui apa yang terjadi pada orang lain. Karena kita tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya sedang dipikirkan orang lain, kita berusaha mengumpulkan informasi mengenai mereka dengan berusaha masuk ke alam pikiran mereka.
"Kita selalu menyelidiki, mencoba menyibak misteri di dalam dirinya," kata Emrys Westacott PhD, profesor filosofi di Alfred University in Alfred, New York, dan penulis buku The Virtues of Our Vices. Berbicara, meskipun isinya cuma gosip, menjadi langkah penting untuk mengenal orang melalui orang lain.

Anda mungkin akan berkilah, bukankah ada cara lain untuk mendapatkan informasi tersebut? Betul, tetapi sering kali kita tidak mampu menahannya. Bergosip adalah bagian dari DNA kita. Agar tetap hidup dan berkembang, nenek moyang kita harus bekerja dengan orang lain, dan mereka harus mengambil keputusan, siapa yang harus mereka percayai untuk berburu bersama, atau dengan siapa mereka harus berpasangan.

Nah, melalui gosiplah mereka mendapatkan informasi tersebut.
Pada masa sekarang, kita mungkin tidak perlu bergosip untuk bertahan hidup, tetapi hal ini bisa membantu kita mengetahui siapa yang bisa kita percayai, dan siapa yang harus kita jauhi. Gosip menjadi cara untuk menavigasi jaringan sosial kita yang rumit, kata Robin Dunbar PhD, direktur Institute of Cognitive & Evolutionary Anthropology di University of Oxford.

Di sisi lain, kita juga bergosip untuk membiarkan orang lain mengetahui siapa kita. Misalnya, Anda sedang mengabarkan tentang tetangga Anda yang sedang selingkuh. Maka dengan memberikan pendapat, kita ingin menunjukkan pada orang lain bagaimana moral kita. Sebaliknya, Anda juga akan menemukan apakah orang yang Anda ajak bicara sepakat dengan pendapat Anda atau tidak.
"Anda mungkin akan mengatakan pada teman Anda, 'Kita kan enggak pernah begitu ya?'" kata Dr Fisher. Anda berusaha mengafirmasi kembali dan menyiarkan nilai-nilai Anda sendiri.

http://female.kompas.com/read/2011/01/29/17463515/Mengapa.Kita.Senang.Ngegosip